-->

Belajar Elektronika Dasar

Tampilkan postingan dengan label Elektronika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elektronika. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2024

Tentang komponen resistor

Tentang komponen resistor



Resistor adalah salah satu komponen dasar dalam dunia elektronika. Resistor digunakan untuk mengurangi aliran arus listrik dalam suatu rangkaian. Komponen resistor umumnya berbentuk silinder atau kapsul dengan dua kaki yang terhubung ke sirkuit. Di dalam resistor terdapat bahan penghambat yang dapat mengurangi arus listrik yang mengalir di dalamnya.


Resistor mempunyai nilai resistansi, yaitu ukuran penghambatan arus listrik yang diberikan oleh resistor terhadap arus listrik yang mengalir di dalamnya. Nilai resistansi diukur dalam satuan ohm (Ω) dan dinyatakan dengan kode warna pada badan resistor.


Komponen resistor dapat dibedakan berdasarkan tipe, nilai resistansi, dan daya tahan. Berikut adalah penjelasan mengenai komponen resistor berdasarkan tipe, nilai resistansi, dan daya tahan:


Berdasarkan Tipe

Komponen resistor dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu resistor tetap dan resistor variabel. Resistor tetap memiliki nilai resistansi yang tetap dan tidak dapat diubah, sedangkan resistor variabel memiliki nilai resistansi yang dapat diubah sesuai dengan kebutuhan.


Berdasarkan Nilai Resistansi

Komponen resistor dapat dibedakan berdasarkan nilai resistansi. Nilai resistansi resistor umumnya dinyatakan dengan satuan ohm (Ω). Resistor biasanya memiliki nilai resistansi mulai dari puluhan ohm hingga jutaan ohm.


Berdasarkan Daya Tahan

Komponen resistor dapat dibedakan berdasarkan daya tahan atau daya hantar listrik. Daya tahan resistor umumnya dinyatakan dalam watt (W). Resistor dengan daya tahan rendah biasanya digunakan dalam rangkaian elektronik sederhana, sedangkan resistor dengan daya tahan tinggi digunakan dalam rangkaian elektronik yang lebih kompleks.


Resistor merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia elektronika. Resistor berperan dalam mengurangi arus listrik yang mengalir dalam rangkaian, sehingga dapat melindungi komponen-komponen lain dari kerusakan. Dalam penggunaannya, perlu memperhatikan nilai resistansi dan daya tahan resistor yang sesuai dengan kebutuhan.

Senin, 17 April 2023

Komponen Dasar Elektronika

Komponen Dasar Elektronika

 


Elektronika adalah cabang ilmu yang berkaitan dengan penggunaan dan kontrol arus listrik untuk menghasilkan atau memproses informasi. Dalam elektronika, ada beberapa komponen dasar yang harus dipahami oleh para pelajar atau pemula dalam bidang ini. Berikut adalah penjelasan singkat tentang komponen dasar elektronika:


Resistor

Resistor adalah komponen pasif yang berfungsi untuk membatasi arus listrik dalam suatu rangkaian. Resistor dapat ditemukan dalam berbagai nilai resistansi, mulai dari puluhan ohm hingga miliaran ohm. Resistor umumnya dibuat dari kawat atau karbon.

Kapasitor

Kapasitor adalah komponen pasif yang dapat menyimpan energi listrik dalam medan listriknya. Kapasitor umumnya terdiri dari dua pelat logam yang dipisahkan oleh bahan dielektrik. Kapasitor digunakan dalam rangkaian elektronik untuk menyimpan energi dan untuk memfilter sinyal.

Induktor

Induktor adalah komponen pasif yang dapat menyimpan energi listrik dalam medan magnetiknya. Induktor terdiri dari kumparan kawat yang terbungkus pada suatu inti magnetik. Induktor digunakan dalam rangkaian elektronik untuk menghasilkan medan magnetik dan untuk memfilter sinyal.

Transistor

Transistor adalah komponen aktif yang dapat mengontrol arus listrik dalam suatu rangkaian. Transistor terdiri dari tiga lapisan bahan semikonduktor yang disusun dalam satu paket. Transistor digunakan dalam rangkaian elektronik sebagai pengubah sinyal dan penguat sinyal.

Dioda

Dioda adalah komponen pasif yang memungkinkan arus listrik mengalir hanya dalam satu arah. Dioda terdiri dari dua bahan semikonduktor yang disusun bersama dalam satu paket. Dioda digunakan dalam rangkaian elektronik sebagai pengubah sinyal, penyearah (rectifier), dan stabilisator tegangan.

Kapasitor elektrolitik

Kapasitor elektrolitik adalah jenis kapasitor yang menggunakan bahan elektrolitik untuk meningkatkan kapasitansi. Kapasitor elektrolitik umumnya digunakan dalam rangkaian yang membutuhkan kapasitansi yang lebih tinggi dan juga memiliki polaritas.

Resistor potensio

Resistor potensio atau sering disebut potensio adalah resistor yang memiliki nilai resistansi yang dapat diatur secara manual dengan menggunakan sebuah pengatur yang disebut tuas potensio. Resistor potensio digunakan dalam rangkaian elektronik sebagai pengatur volume, pengatur kecerahan lampu, atau sebagai pengatur lainnya.

IC (Integrated Circuit)

IC adalah komponen elektronik yang terdiri dari beberapa komponen dasar yang terintegrasi dalam satu paket. IC digunakan dalam rangkaian elektronik sebagai pengubah sinyal, penguat sinyal, pemroses data, dan banyak lagi. IC tersedia dalam berbagai jenis, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks.

LED (Light Emitting Diode)

LED adalah komponen pasif yang dapat menghasil

Elektronika dasar

Elektronika dasar



 Elektronika dasar merupakan ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat elektron dan cara mengendalikannya. Ilmu ini penting karena hampir semua perangkat elektronik yang kita gunakan sehari-hari didasarkan pada prinsip-prinsip elektronika dasar.

Beberapa konsep dasar elektronika meliputi:

Arus Listrik

Arus listrik merupakan aliran elektron yang bergerak dari titik yang memiliki potensial yang lebih tinggi ke titik yang memiliki potensial yang lebih rendah. Satuan dari arus listrik adalah ampere (A) yang didefinisikan sebagai jumlah elektron yang melewati suatu titik dalam satu detik.

Tegangan Listrik

Tegangan listrik adalah perbedaan potensial antara dua titik dalam rangkaian listrik yang menyebabkan arus listrik mengalir. Satuan dari tegangan listrik adalah volt (V) dan dapat diukur dengan menggunakan voltmeter.

Resistansi

Resistansi merupakan besaran yang menunjukkan seberapa sulit arus listrik untuk mengalir melalui suatu benda. Benda yang memiliki resistansi tinggi akan menghambat arus listrik dan sebaliknya. Satuan dari resistansi adalah ohm (Ω) dan dapat diukur dengan menggunakan ohmmeter.

Kapasitansi

Kapasitansi adalah kemampuan suatu benda untuk menyimpan muatan listrik. Benda yang memiliki kapasitansi tinggi akan dapat menyimpan muatan listrik yang lebih banyak. Satuan dari kapasitansi adalah farad (F) dan dapat diukur dengan menggunakan kapasitometer.

Induktansi

Induktansi adalah kemampuan suatu benda untuk menghasilkan medan magnetik ketika arus listrik mengalir melalui benda tersebut. Satuan dari induktansi adalah henry (H) dan dapat diukur dengan menggunakan inductometer.


Konsep-konsep di atas sangat penting dalam memahami dasar-dasar elektronika. Selain itu, elektronika dasar juga meliputi pembelajaran tentang berbagai jenis komponen elektronik seperti resistor, kapasitor, induktor, dioda, transistor, dan IC (Integrated Circuit).

Resistor digunakan untuk mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian listrik. Kapasitor digunakan untuk menyimpan dan melepas muatan listrik dalam suatu rangkaian listrik. Induktor digunakan untuk menghasilkan medan magnetik dalam suatu rangkaian listrik. Dioda digunakan untuk mengatur arah aliran arus listrik dalam suatu rangkaian listrik. Transistor digunakan untuk mengatur arus listrik dan digunakan sebagai saklar atau amplifier dalam suatu rangkaian listrik. IC digunakan sebagai komponen utama dalam berbagai perangkat elektronik modern seperti komputer, telepon genggam, dan televisi.

Dalam elektronika dasar, juga terdapat pembelajaran tentang rangkaian listrik sederhana seperti rangkaian seri, rangkaian paralel, dan rangkaian campuran. Rangkaian seri merupakan rangkaian listrik dimana komponen-komponen terhubung secara berurutan. Rangkaian paralel merupakan rangkaian listrik dimana komponen-komponen

Selasa, 18 Juni 2019

Cara menganalisa kerusakan kondensator elektrolit

Cara menganalisa kerusakan kondensator elektrolit

elco

Kondensator elektrolit atau juga bisa disebut elco merupakan komponen elektronika yang mempunyai 2 kaki dan memiliki kutup positif dan negatif. fungsi kapasitor yaitu untuk menimpan arus listrik sementara. sebelum arus listrik tersebut masuk kedalam kondensator terlebih dahulu disearahkan oleh komponen dioda. kondensator mirip sekali dengan batu batrei yaitu sama-sama menyimpan tegangan listrik tetapi perbedaanya adalah kapasitansinya kondensator sangat kecil dibandingkan dengan batu batrei.


Kondensator yang masih baik yaitu ketika mampu menyimpan muatan listrik dengan baik atau sesuai dengan kapasitasnya dan mampu membuang muatan listrik sampai kosong. Hal tersebut bisa juga dikatakan charge dan Rechage pada kondensator. Dengan memperhatikan hal tersebut, maka kita dapat mengetahui kondisi kondensator yang diukur.

Kali ini saya akan memberikan tutorial cara menganalisa kerusakan kondensator elektrolit. Ada 2 tahapan untuk menganalisa komponen ini yaitu tahapan pengecekan kondensator secara bentuk fisiknya dan mengecek kondensator dengan alat pengecek avometer. 2 tahapan tersebut harus kalian urutkan agar dalam menganalisanya bisa akurat.

Cara mengecek kondensator dengan melihat dari bentuk fisiknya :

  • Perhatikan bentuk kapasitor tersebut, apabila bagian atas bentuknya tidak datar atau mlembung maka bisa dipastikan rusak.
  • Perhatikan pada pembungkus kondensator, apabila mengelupas maka komponen tersebut rusak.

Baca Juga :

Cara mengecek kerusakan kondensator dengan Avometer :

  • Posisikan saklar selektor avometer 1K.
  • Tempatkan jarum yang berwarna merah ke komponen yang mempunyai kaki positif dan hitam ke kaki negatif.
  • Posisikan saklar selektor sesuai dengan ukuran kondensator, jika ukuran kondensator diatas 100 uf maka posisikan pada x10 dan jika dibawah 1uf, posisi saklar 10K.
  • Jika jarum bergerak kembali ke angka 0, maka kondensator tersebut masih bagus.
  • Jika jarum bergerak tetapi pada saat kembali tidak sampai pada posisi angka 0, maka kondensator rusak. Segera diganti yang baru.
  • Jarum bergerak mentok tetapi tidak kembali ke angka 0, maka kondensator tersebut rusak.

Sabtu, 15 Juni 2019

Bagaimana Cara kerja Transistor

Bagaimana Cara kerja Transistor



Bagaimana Cara kerja Transistor - Apabila terminal transistor tidak diberi tegangan bias dari luar, maka tidak akan ada arus yang mengalir atau semua arus akan nol. Sebagaimana terjadi pada persambungan dioda, pada persambungan Emitor dan Basis serta pada persambungan Basis dan Kolektor terdapat daerah pengosongan. Tegangan penghalang (barrier potensial) pada masing-masing persambungan dapat dilihat pada gambar dibawah. Penjelasan kerja berikut ini didasarkan pada transistor jenis PNP ( Bila NPN maka semua polaritasnya adalah sebaliknya )

cara kerja transistor
Gambar Diagram potensial pada transistor tanpa bias


Pada gambar diatas terdapat perbedaan potensial antara kaki emitor dan basis sebesar Vo, juga antara kaki basis dan kolektor. Arus rekombinasi hole-elektron tidak mengalir karena potensial ini berlawanan dengan muatan pembawa pada masing-masing bahan tipe P dan N. Sehingga pada saat transistor tidak diberi tegangan bias, maka arus tidak akan mengalir.

Selanjutnya apabila antara terminal Emitor Positif dan Basis Negatif diberi tegangan bias maju serta antara terminal basis Positif dan kolektor Negatif diberi bias mundur, maka transistor disebut mendapat bias aktif. Setelah transistor diberi tegangan bias aktif, maka daerah pengosongan pada persambungan basis-kolektor menjadi semakin melebar karena mendapat bias mundur.

cara kerja transistor
Gambar Transistor dengan tegangan bias aktif


Pemberian tegangan bias seperti ini menjadikan kerja transistor berbeda sama sekai bila dibandingkan dengan dua dioda yang disusun berbalikan, meskipun sebenarnya struktur transistor mirip seperti dua dioda yang disusun berbalikan. Jika transistor mengikuti prinsip kerja dua dioda maka dioda emitor-basis yang mendapat bias maju akan mengalirkan arus dari emitor kebasis dengan cukup besar. Sedangkan dioda Basis-Kolektor yang mendapat bias mundur praktis tidak mengalir arus. Dengan demikian terminal emitor dan basis akan mengalir arus yang besar dan terminal kolektor tidak mengalir arus.

Yang terjadi pada transistor tidaklah demikian. Hal ini disebabkan karena dua hal, yaitu : ukuran fisik basis yang sangat sempit atau kecil dan tingkat doping basis yang sangat rendah. Oleh karena itu kondutivitas basis sangat rendah atau dengan kata lain jumlah pembawa mayoritasnya ( dalam hal ini adalah elektron) sangatlah sedikit dibandingkan dengan pembawa mayoritas emitor ( dalam hal ini adalah hole). Sehingga jumlah hole yang berdifusi ke basis sangat sedikit dan sebagaian besar tertarik ke kolektor dimana pada kaki kolektor ini terdapat tegangan negatif yang relatif besar.

Lebih jelasnya lihat pada gambar dibawah tentang cara kerja transistor



cara kerja transistor
Gambar Diagram potensial transistor dengan bias aktif

Tegangan bias maju yang diberikan pada dioda emitor ( VEB ) akan mengurangi potensial penghalang Vo, sehingga pembawa muatan mayoritas pada emitor akan mudah untuk berkombinasi ke basis. Namun karena kondiktivitas basis yang rendah dan tipisnya basis, maka sebagian besar pembawa muatan akan tertarik ke kolektor. Disamping itu juga dikuatkan oleh adanya beda potensial pada basis-kolektor yang semakin tinggi sebagai akibat penerapan bias mundur VCB.

Dengan demikian arus dari emitor ( IE ) sebagian kecil dilewatkan ke basis ( IB ) dan sebagian besar lainnya diteruskan ke kolektor ( IC ). Sesuai dengan hukun Kirchhoff maka diperoleh persamaan yang sangat penting yaitu :

IE = IC + IB

Karena besarnya arus IC kira-kira 0,90 sampai 0,998 dari arus IE. Disamping ketiga macam arus tersebut yang pada dasarnya adalah disebabkan karena aliran pembawa mayoritas, di dalam transistor sebenarnya masih terdapat aliran arus lagi yang relatif sangat kecil yakni yang disebabkan oleh pembawa minoritas. Arus ini sering disebut dengan arus bocor ( arus kolektor-basis dengan emitor terbuka ). Namun dalam berbagai analisa praktis arus ini sering diabaikan.

Baca Juga :

Seperti halnya pada dioda, bahwa dalam persambungan PN yang diberi bias mundur mengalir arus bocor Is karena pembawa minoritas. Demikian juga dalam transistor dimana persambungan kolektor-basis yang diberi bias mundur VCB akan mengalir arus bocor ( ICBO). Arus bocor ini sangat peka terhadap temperatur, yakni akan naik dua kali untuk setiap kenaikan temperatu 10 derajat celcius.

cara kerja transistor
Gambar Diagran aliran arus dalam transistor

Dari gambar diatas terlihat bahwa arus kolektor merupakan penjumlahan dari arus pembawa mayoritas dan arus pembawa minoritas, yaitu IC = IC Mayoritas + ICBO Minoritas.


Senin, 05 November 2018

Mengenal Elektronika Dasar

Mengenal Elektronika Dasar



Elektronika merupakan sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mengendalikan dan mengalirkan elektron serta perilaku dan efeknya pada saat itu juga berada didalam suatu medium vacuum, gas, bahan semikonduktor, dan dalam suatu divais (tema penting untuk memahami dasar dan prinsip kerja dari komponen dasar elektronika).  Elektron dapat dikendalikan berbagai cara antara lain dapat berupa membawa, menahan, menyimpan, memilih, mengubah, memutus, dan sebagainya. Elektronika mempunyai beberapa cabang utama, antara lain : elektronika analog, elektronika digital, Mikroelektronik, optoelektronik, dan devais semikonduktor, rangkaian terintegrasi (IC).

Sejarah elektronika bermula pada abad ke-20, Membuat 3 jenis komponen  yaitu tabung hampa udara, transistor, dan sirkuit terpadu. Dimulai dari tahun 1883, Thomas Alva Edison menemukan elektron yang bisa berpindah dari sebuah konduktor ke konduktor lain melewati ruang hampa, penemuan ini terkenal dengan nama Efek Edison. John Fleming menerapkan efek Edison untuk menemukan dua buah elmen tabung elektron yang dikenal dengan nama dioda, ini terjadi pada tahun 1904 lalu Lee De Forest juga mengikutinya pada tahun 1906 membuat trioda (tabung dengan tiga elmen). Memanipulasi kemungkinan energy listrik sehingga bisa diperkuat dan dikirim sehingga tabung hampa udara menjadi divais. Aplikasi komunikasi radio pertama kali diterapkan menggunakan tabung elektron. Kemudian  Marconi merintis dan mengembangkan komunikasi wireless telegraph pada tahun 1896 dan pada tahun 1901 membuat radio komunikasi jarak jauh.

Teknologi elektronik memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam banyak hal, tanpa elektronik kehidupan kita akan terasa kurang aman, kurang nyaman, kurang menyenangkan, kurang menarik. Elektronik sangat berpengaruh dalam perkembangan teknologi seperti teknologi informasi, teknologi multimedia, dan telekomunikasi. Bahkan pada masa sekarang ini teknologi sudah masuk pada level mikro  bahkan sampai teknologi nano yang banyak kita temui dalam ponsel, dan internet melalui fiber optik. Elektronika ini dapat kita temui melalui fungsi yang sederhana seperti meredupkan sebuah bola lampu sampai dengan sistem komunikasi dengan satelit.

Dalam elektronika penyederhanaan penulisan nilai numerik komponen atau besaran listrik menggunakan notasi ilmiah dan metrik, notasi ilmiah ini dipakai untuk menuliskan nilai yang paling besar atau yang paling kecil. untuk mengungkapkan besaran penggali dari suatu nilai yang ditulis berdampingan sebelum simbol satuan menggunakan Awalan (prefix) atau disebut juga dengan notasi metrik. Notasi ilmia juga ditulis menggunakan bilangan dasar 10 berpangkat.

Dibawah ini ada beberapa notasi ilmiah dan awalan yang sering digunakan dalam mengungkapakan besaran dalam elektronika

Prefiks dan simbol Notasi Ilmiah

Pada kolom diatas terlihat nama awalan dan notasi ilmiah yang digunakan mulai dari Yotta sampai dengan Yocto, pada pangkat sepuluh yang positif, penulisan simbol menggunakan huruf besar kecuali huruf "k" menampilkan kilo, sementara untuk pangkat ditulis menggunakan huruf kecil. cara penulisan notasi metrik untuk nilai komponen yang memiliki nilai desimal dengan menempatkan awalan diantara nilai contohnya, nilai pada suatu komponen yaitu 3.3K Ohm maka bisa ditulis dalam format 3K3. format penulisan ini sering kita temui pada gambar rangkaian elektronik.

Referensi :

  1. id.wikipedia.org - Elektronika
  2. Elektronika Dasar - Yohandri , M.Si., Ph.D.- Drs. Asrizal, M.Si.

Sabtu, 03 November 2018

 Cara Menganalisa Kerusakan komponen transistor

Cara Menganalisa Kerusakan komponen transistor


Transistor merupakan komponen aktif pada rangkaian elektronika, komponen tersebut juga sering mengalami kerusakan. Transistor mengalami kerusakan disebabkan oleh beberapa pilihan antara lain:
- Salah dalam pemasangan kaki-kaki basis, colektor, emitor.
- Salah dalam memasang ke rangkaian.
- Memberi teganagan transisitor terlalu besar.
- Arus terlalu besar.

Transistor dapat meledak dan mengeluarkan bau asap yang beracun sehingga dapat membahayakan kesehatan. Sebelum menggunakannya lebih baik transistor di tes pengukuran untuk mengantisipasi kerusakan, hal tersebut harus dilakukan agar bisa mengetahui komponen tersebut masih layak digunakan atau tidak.

Berikut ini adalan cara mengukur transistor menggunakan multimeter digital :

  1. Persiapkan terlebih dahulu transistor dan multimeter digital.
  2. Set mode dioda pada multimeter.
  3. Cek kaki-kaki transistor, kali ini menggunakan transistor NPN.
  4. Tempelkan terminal positif (+) pada multimeter ke kaki Emitor (N) transistor, dan tempelkan terminal negatif (-) pada multimeter ke kaki kolektor (N) transistor.
  5. Lihat pada layar multimeter jika menampilkan angka 1 atau selain angka 0 maka komponen tersebut bisa dipastikana tidak rusak dan jika pada layar multimeter menunjukkan angka 0 atau 000 maka bisa dipastikan komponen tersebut rusak dan tidak bisa digunakan.


untuk cara mengukur transistor jenis PNP sebenarnya sama seperti NPN, sebelum kita belajar cara mengukur transistor terlebih dahulu harus paham terlebih dahulu tentang komponen transistor ini.

Baca Juga : Transistor



Selasa, 30 Oktober 2018

Kegunaan Multimeter digital

Kegunaan Multimeter digital

Gambar Multimeter digital
Multimeter digital merupakan sebuah alat yang berfungsi untuk mengukur tegangan, arus, dan hambatan listik dalam satu perangkat. seiring perkembangan tekologi, multimeter digital tidak hanya mengukur tegangan, arus, dan hmbatan listrik. tetapi juga bisa untuk mengukur kapasitansi, frekuensi, dan induksi. 

Untuk kegunaan multimeter digital antara lain :
  • Menguji kerusakan pada transistor
  • Untuk menguji kerusakan Dioda.
  • Mengukur tegangan DC ataupun AC
  • Mengukur Arus Listrik
  • Mengukur Kapasitansi
  • Mengukur Indukstansi
  • Mengukur Frekuensi
  • Mengukur Hambatan
Dilihat dari kemudahan cara pakainya multimeter digital bisa menampilkan secara langsung, selain itu multimeter digital bisa menampilkan nilai sampai beberapa digit di belakang koma sehingga dapat menambahkan tingkat ketelitian dalam pengukuran.


Referensi :

Sabtu, 19 Mei 2018

Pengertian Dasar Transistor Bipolar

Pengertian Dasar Transistor Bipolar



Transistor yang kita bahas kali ini adalah transistor bipolar yang mempunyai dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor bipolar merupakan gabungan dari dua buah dioda dimana kutup sejenis disatukan menjadi satu yang disebut sebagai basis, sedangkan dua kutup yang sejenis lainya yang tidak disatukan dinamakan emitor dan colektor. Lihat gambar dibawah ini :


Transistor ini di desain untuk memanfaatkan sifat dioda, arus pengantar dari dioda dapat dikontrol oleh elektron yang ditmbahkan pada pertemuan PN dioda. Dengan penamahan elekdioda pengontrolan ini, maka dioda semi-konduktor dapat dianggap dua buah dioda yang mempunyai elektrode bersama pada pertemuan. Jungction semacam ini disebut transistor bipolar dan dapat dilihat pada gambar diatas.

Pada transistor bipolar, arus yang mengalir berupa arus lubang(hole) dan arus elektron atau berupa pembawa muatan mayoritas dan minoritas. Transistor dapat berfungsi sebagai penguat tegangan, penguat arus, penguat daya atau sebagai saklar.

Dengan memilih elektroda pengontrol dari type P atau type N sebangai elektrode persekutuan antara dua dioda, maka dihasilkan transistor jenis PNP dan NPN. Transistor dapat bekerja apabila diberi tegangan, tujuan pemberian tegangan pada transistor adalah agar transistor tersebut dapat mencapai suatu kondisi menghantar atau menyumbat. Baik transistor NPN maupun PNP tegangan antara emitor dan basis adalah foward bias, sedangkan antara basis dengan kolektor adalah reverse bias.



Untuk cara pemberian tegangan muka didapatkan dua kondisi yaitu Menghantar dan Menyumbat seperti pada gambar dibawah ini :


Pemberian tegangan pada transistor
teganga pada Vcc jauh lebih besar dari tegangan pada Veb. Diode basis-emitor mendapat foward bias, akibatnya elektron mengalir dari emitor ke basis, aliran elektron ini disebut arus emitor (IE). Elektron ini tidak mengalir dari kolektor ke basis, tetapi sebaliknya sebagian besar elektron-elektron ini tidak semuanya tertarik ke kolektor tetapi sebagian kecil menjadi arus basis (IB)

Rabu, 13 Desember 2017

Pengetahuan Dasar Tentang Gerbang logika

Pengetahuan Dasar Tentang Gerbang logika


Gerbanga logika merupakan dasar dalam sebuah bentuk sistem elektronika digital yanga berfungsi untuk mengubah inputan menjadi sinayal output logis, dapat dioperasikan dalam bilangan biner yaitu 1 dan 0. Gerbang logika dalam bentuk fisiknya menggunakan komponen-kononen seperti IC, Dioda, Relay,Transistor, dan lainya.

Ada 7 jenis gerbang logika yang membentuk sistem elektronika digital yaitu :

1. Gerbang AND.
2. Gerbang OR
3. Gerbang NOT
4. Gerbang NAND
5. Gerbang NOR
6. Gerbang X-OR (Exclusive OR)
7. Gerbang X-NOR (Exlusive NOR)


Input dan Output pada gerbang logika hanya memiliki 2 Level yang dapat dilambangkan dengan :

a. HIGHT (tunggi) dan LOW (rendah)
b. TRUE (benar) dan FALSE (salah)
c. ON (hidup) dan OFF (mati)
d. 1 dan 0

jika diterapkan kedalam rangkaian elektronika yaitu pada komponen transistor TTL (Transistor Transistor Logic) , pada tegangan 0V pada rangkaian dapat diasumsikan dengan "LOW" atau 0 , sedang kan teegangan 5V dapat diasumsikan dengan "HIGH" atau 1

Jumat, 17 Maret 2017

Solid State Relay (SSR) dan Jenis SSR

Solid State Relay (SSR) dan Jenis SSR


SSR merupakan Sebuah  relay elektromekanik mempunyai banyak keterbatasan , dimana Relay  memerlukan biaya yang cukup besar untuk membuatnya, memiliki masa pakai kontak yang cukup singkat, mengambil banyak ruang, dan proses Switchnya kontaknya relatif pelan jika dibandingkan dengan perangkat semikonduktor modern. Keterbatasan ini terutama berlaku untuk relay kontaktor dengan daya yang besar. Untuk mengatasi keterbatasan ini, banyak produsen relay menawarkan "solid-state" relay, yang menggunakan SCR, TRIAC, atau output transistor bukan dengan kontak mekanik untuk switch atau memindahkan kontrol power. Perangkat output (SCR, TRIAC, atau transistor) secara optik-digabungkan ke sumber cahaya LED di dalam relay. Relay dihidupkan oleh energi LED ini, biasanya dengan tegangan DC daya rendah. Sejauh Ini isolasi optik antara input ke output dengan menggunakan SSR merupakan pilihan yang terbaik dari jenis relay elektromekanik.

Solid state relay dan relay semikonduktor keduanya adalah nama perangkat relay yang bekerja seperti relay biasa. Mereka biasanya disebut juga dengan SSR. SSR adalah sebuah perangkat semikonduktor yang dapat digunakan menggantikan relay mekanik untuk menghubungkan arus listrik ke beban dalam banyak aplikasi. Artinya Solid state relay adalah sebuah saklar elektronik yang tidak memiliki bagian yang bergerak. Contohnya foto-coupled SSR, transformer-coupled SSR, dan hybrida SSRSolid-state relay adalah murni elektronik, biasanya terdiri dari sisi kontrol yang rendah/ low current control side (setara dengan kumparan relay elektromekanik) dan high-current load side (setara dengan kontak pada relay konvensional). SSR biasanya mempunyai kemampuan  mengisolasi listrik beberapa ribu volt antara kontrol dan beban. Karena isolasi ini, beban sendiri hanya diberi power dari switch line sendiri dan hanya kan terhubung apabila ada kontrol sinyal yang 
mengoperasikan relay. SSR berisi satu atau lebih LED di input (drive). input ini menyediakan kopling optik sebuah phototransistor atau photodiode array, yang pada gilirannya menghubungkan ke sirkuit driver yang menyediakan sebuah interface ke perangkat switching atau perangkat pada output. Perangkat swithing biasanya MOS-FET atau TRIAC.

Dalam sebuah perangkat solid-state relay, tidak ada perangkat yang akan menjadi aus karena pergerakan kontak/gesekan , dan mereka mampu menghidupkan dan mematikan jauh lebih cepat daripada angker relay mekanik. Tidak ada memicu antara kontak, dan tidak ada masalah dengan korosi kontak yang ada. Namun demikian, solid-state relay masih terlalu mahal untuk dibuat dalam sebuah rangkaian dengan high current ratings, dan kontaktor elektromekanis terus mendominasi dalam aplikasi industri

saat ini.Satu keuntungan Solid state relay adalah ikomponen ini dibangun oleh isolator sebuah MOC untuk memisahkan bagian input dan bagian saklar. Dengan Solid state relay kita dapat menghindari terjadinya percikan api seperti yang terjadi pada relay konvensional juga dapat menghindari terjadinya sambungan tidak sempurna karena kontaktor keropos seperti pada relay konvensional.

JENIS-JENIS SSR

Reed-Relay-Coupled SSR's di mana sinyal kontrol diterapkan (secara langsung, atau melalui Preamplifier) ke kumparan relay yang buluh. Penutupan buluh lalu mengaktifkan sirkuit yang tepat dengan saklar memicu thyristor. Jelas, input-output isolasi dicapai adalah bahwa dari buluh relay, yang biasanya sangat baik. 

Transformer-Coupled SSR's, di mana  sinyal kontrol diterapkan (melalui DC-AC converter, jika sudah DC, atau secara langsung, jika itu AC) ke domain utama trafo berdaya rendah, dan sekunder  yang dihasilkan dari eksitasi primer yang digunakan (dengan atau tanpa rektifikasi, amplifikasi, atau lainnya modifikasi) untuk memicu thyristor saklar. Dalam jenis ini, tingkat isolasi input-output tergantung pada desain transformator.  

Opto-coupler SSR's, di mana sinyal kontrol diterapkan pada sebuah sumber cahaya atau inframerah  (biasanya, sebuah dioda pemancar cahaya atau LED), dan dari sumber yang terdeteksi dalam foto - sensitive semi-conductor (misalnya, sebuah dioda fotosensitif, sebuah foto-sensitif transistor, atau foto-sensitif thyristor). Output dari foto-perangkat sensitif kemudian digunakan untuk  memicu (gerbang) yang TRIAC atau SCR itu aktifkan arus beban. Jelas, satu-satunya yang signifikan "coupling path" antara input dan output adalah cahaya atau sinar infra - radiasi merah, dan isolasi listrik yang sangat baik. “optically coupled” or SSR yang juga disebut sebagai "optikal yang digabungkan" atau Foto terisolasi.


KARAKTERISTIK INPUT

Dielektrik kekuatan, 
Dinilai dalam hal minimum tegangan rusaknya dari rangkaian kontrol baik kepada  SSR kasus dan output (beban) rangkaian. Tipikal rating adalah 1500 volt ac (RMS), baik untuk kontrol output. 

Insulation Resistance, 
Dari rangkaian kontrol untuk kedua  kasus dan output rangkaian. Rentang pemberian peringkat Khas  dari 10 megohms menjadi 100.000 megohms untuk transformator dan desain hibrida. Untuk optik terisolasi SSR, tipikal kisaran resistensi isolasi dari 1000 megohms sampai 1 juta megohms. 

Stray Kapasitansi 
Dari rangkaian kontrol untuk kedua kasus  dan output rangkaian. Kapasitansi ke kasus jarang signifikan, tetapi kapasitansi ke rangkaian output mungkin control pasangan ac dan transien kembali ke kontrol sensitif  sirkuit, dan bahkan lebih jauh lagi, ke-sinyal kontrol sumber. Untungnya, di SSR dirancang dengan baik itu, ini kapasitansi jarang cukup besar untuk menyebabkan interaksi. Kapasitansi tipikal berkisar dari 1 sampai 10 picofarad. Kecepatan respon dari SSR untuk penerapan  kontrol tegangan akan dijelaskan nanti pada bagian ini.
Dioda Foto

Dioda Foto




Dioda foto atau fotodiode merupakan komponen yang berfungsi untuk mendeteksi cahaya. komponen ini akan mengubah cahaya menjadi arus listrik. Cahaya yang mendeteksi foto diode ini antara lain inframeraah, cahaya tampak, ultra ungu, sampai dengan sinar-X. dioda foto dapat digunakan sebagai penghitung kendaraan dijalan umum secara otomatis, pengukur cahaya pada kamera serta beberapa peralatan dibidang medis.

Dioda poto terbuat dari bahan semikonduktor dengan bahan yang populer yaitu silikon atau galium arsenida (GaAs), dan yang lain meliputi InSb, InAs, PbSe. Ketika sebuah photon (satu energi dalam cahaya) dari sumber cahaya diserap, hal tersebut membangkitkan suatu elektron dan menghasilkan sepasang pembawa muatan tunggal, sebuah elektron dan sebuah hole, dimana suatu hole adalah bagian dari kisi-kisi semi konduktor yang kehilangan elektron. arah arus yang melalui sebuah semi konduktor adalah kebalikan dengan gerak muatan pembawa. Cara tersebut dialam sebuah dioda foto digunakan untuk mengumpulkan photon menyebabkan pembawa muatan seperti arus atau tegangan mengalir atau terbentuk di baian-bagian elektroda

Prinsip kerja dioda foto:

  • Cahaya yang diserap oleh dioda foto
  • Terjadinya pergeseran foton
  • Menghasilkan pasangan electron-hole dikedua sisi
  • Electron menuju sumber positif dan Hole menuju sumber negatif
  • Sehingga arus akan mengalir di dalam rangkaian


Karakteristik Dioda Foto:

  • Mempunyai respon 100 kali lebih cepat dari pada Phototransistor
  • Deikemas dengan plastik transparan yang juga berfungsi sebagai lensa. lensa tersebut lebih dikenal sebagai 'lensafresnel' dan 'optical filter'
  • Penerima inframerah juga dipengaruhi oleh 'active area' dan 'respond time'

Simbol Dioda Foto



Sabtu, 11 Maret 2017

Dioda Silikon atau SCR

Dioda Silikon atau SCR


Dioda silikon atau SCR merupakan salah satu jenis dioda yang memiliki fungsi sebagai pengndali, berbeda dari dioda pada umumnya yang hanya memiliki dua kaki yaitu kaki anoda dan kantoda, SCR ini memiliki tiga kaki disamping anoda dan kantoda terdapat sebuah kaki yang disebut terminal gate atau gerbang

terminal tersebut berfungsi sebagai pengontrol, Perlu diketahui bahwa komponen ini masih masuk kedalam keluarga komponen  thyristor yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956. Dioda silikon memiliki keampuan dapat mengendalikan daya maupun  tegangan yang cukup tinggi. Oleh sebab itu komponen ini bisa difungsikan sebgai sebuah switch tegangan atau arus menengah ke atas. Beberapa jenis rangkaian yang sering menggunakan komponen SCR memiliki 4 lapis semikonduktor, yakni Positif-Negatif-Positif-Negatf (PNPN). Cara kera SCR tak berbeda dari dua buah bipolar transistor yang disambung.

Dioda SCR berfungsi sebagai pengendali atau sebagai saklar (switch). Dalam sebuah rangkaian elektronika, komponen elektronika dalam memutus dan menyambung arus serta tegangan listrik kelas menengah ke atas. Prinsip kerja dari komponen SCR sebenarnya tak berbeda dari komponen dioda pada umumnya. akan tetapi karena SCR memiliki 3 kaki, maka perlakuanya juga sedikit berbeda
agar dapat bekerja sebagai mana mestinya, kaki ketiga (gate) dari komponen SCR ini memerlukan tegangan positif sebagai triger atau pemicu. Saat SCR dalam keadaan ON makan seterusnya akan dalam keadaan ON walaupun tegangan pemicu dilepas. Dan untuk mengembalikannya ke posisi OFF, arus maju pada anoda dan kantoda harus diturunkan sampai berada diposisi lh (Holding Current)
SCR. Perlu diketahui bahwa masing-masing SCR memiliki arus holding yang berbeda-beda
Dioda Zener

Dioda Zener


Dioda zener terbuat dari bahan semikonduktor dan merupakan jenis dioda yang dirancang khusus untuk dapat beroperasi pada rangkaian Bias balik. pada saat dipasang pada rangkaian Bias Maju, dioda zener akan memiliki karakteristik dan fungsi sebagai mana dioda pada umumnya kecuali bahwa komponen ini sengaja dibuat dengan tegangan tembus yang jauh dikurangi atau disebut juga tegangan zener. Efek Dioda jenis ini ditemukan oleh seorang fisikawan Amerika yang bernama Clarence Melvin Zener pada tahun 1934 sehingga nama diodanya juga diambil dari nama penemunya yaitu Dioda Zener.

Sebuah dioda zener memiliki P-N junction yang memiliki doping berat, yang memungkinkan elektron untuk tembus dari pita valensi material tipe-P ke dalam pita konduksi material tipe-N. Sebuah dioda zener yang dicatu-balik akan menunjukkan perilaku tegangan tembus yang terkontrol dan akan melewati arus listrik untuk menjaga tegangan jatuh pada 3.2 volt jika diberi catu-balik. Namun karena arusnya dibatasi maka komponen ini biasanya digunakan untuk membangkitkan tegangan referensi, untuk menstabilisasi tegangan aplikasi-aplikasi arus kecil, untuk melewatkan arus besar diperlukan rangkaian pendukung IC atau beberapa transistor sebagai output

Prinsip kerja dioda zener yaitu menyalurkan arus listrik yang mengalir kearah yang berlawanan jika tegangan yang diberikan melampaui batas tegangan tembusnya. karakteristik ini berbeda dengan dioda biasa yang dapat menyalurkan arus listrik ke satu arah. Tegangan Tembus ini disebut juga dengan teganyan zener

Dalam rangkaian elektronika dioda zener dipakai untuk menstabilkan tegangan. Pada saat disambungkan secara paralell dengan  sebuah sumber tegangan yang berubah-ubah yang dipasang sehingga mencatu-balik, sebuah dioda zener akan menjadi seperti kortsleting (hubungan singkat) saat tegangan melebihi tegangan tembusnya. hasil tegangan akan dibatasi sampai kesebuah angka yang telah ditetapkan sebelumnya. Dioda Zener juga dapat digunakan untuk sambungan parallel, dan regulator tegangan yang berfungsi untuk menstabilkan tegangan.

Senin, 12 Desember 2016

Transistor

Transistor

transistor elektronika



Di Zaman yang serba canggih ini, pasti tidak ada yang menggunakan tabung transistor yang berukuran besar. Perusahaan elektronika mengubah transistor menjadi lebih kecil, sehingga tampak praktis dan tidak memakan banyak tempat. Komponen yang satu ini bisa kita temukan di setiap alat elektronika mulai dari lampu berkedip sampai barang elektronika yang berharga mahal. Walaupun saat ini banyak barang-barang elektronika yang menggunakan IC sebangi komponen utama, tetapi tidak dapat meninggalkan transistor.

Baca Juga :
Kelebihan komponen transistor adalah ukuran fisiknya sangat kecil dan ringan dibandingkan tabung hampa yang ukuranny sangat besar. Komponen transistor masa zaman sekarang ini dalam satu keping silikon terdapat ratusan ribu transistor. Selain itu transistor hanya membutuhkan daya yang kecil dan sangat efisien.

Ada dua jenis transistor  yaitu transistor PNP dan NPN :

  • Transistor NPN adalah transistor yang memiliki kantoda pada kaki basis.
  • Transistor PNP adalah transistor yang memiliki kantodanya  terletak pada emitor dan kolektor.

Mengapa disebut anoda dan kantoda. Mungkin anda bertanya demikian sebab sebutan itu biasanya hanya untuk dioda. Perlu diketahui bahwa transistor adalah komponen yang terdiri dari dua macam dioda kemudian dikemas sedemikian rupa dan diberi tiga kaki. Pada bagian tengan dipasang kaki sedangkan dioda hanya dua kaki.

Gb. skema Transistor NPN dan PNP

Berikut ini adalah bahan untuk membuat transistor :
  1. Transistor NPN terbuat dari bahan arsenikum yang bersifat negatif, akibatnya germanium sebagai       bahan utamanya pun menjadi negatif. Jadi transistor ini lebih banyak negatif dari pada positif nya.
  2. Transistor PNP terbuat dari campuran atom indium pada germaniun. Bahan ini bersifat positif sehingga germanium menjadi positif. Maka susunannya menjadi positif-negatif-positif.
Untuk menentukan kaki-kaki transistor dapat menggunakan bantuan alat avometer atau menarik garis bayangan. Bisa juga melihat tanda yang ada pada kaki basis. Tanda ini biasanya berbentuk titik atau bulatan kecil pada fisiknya. Lebih jelasnya lihat uraian dibawah ini:
  1. Terlabih dahulu menentukan salah satu kaki kolektor kemudian menarik garis bayangan berbentuk     segitiga sama kaki. Sebelah kanan kaki kolektor adalah emitor, dan yang paling sudut adalah basis
  2. Transistor model lama ditentukan dengan plat fisik yang menjorok, kaki yang dekat dengan plat tersebut adalah kolektor. Bagian kaki emitor dan tengah agak ke atas adalah basis.
  3. Menggunakan Avometer. Alat ini dilengkapi dengan jarum penunjuk dan skala. pada saklar terdapat tanda putih sebagai penunjuk ukuran. 

Cara menguji transistor menggunakan avometer :

  • Sebelumnya mengetahui jenis transistor PNP dan NPN.
  • Saklar menunjukkan pada R x 100 Ohm.
  • Pencolok hitam dihubungkan pada kaki emitor, pencolok hitam harus berada pada tanda min (-)
  • Pencolok merah berada pada tanda plus (+) dihububgkan pada kaki basis. Apabila jarum bergerak lalu berhenti berarti transistor masih baik, kemudian dicatat batas jarum penunjuk.
  • Selanjutnya pencolok hitam dihubungkan pada kaki kolektor. Jarum akan bergerak, kemudian bandingkan. Bila jarum mejunjukkan angka lebih besar maka transistor berjenis NPN dan jika sebaliknya maka jenisnya PNP.